Sabtu, 17 Maret 2012

Ngocok Bareng Bule

Memory masa sekolah? Sebelum aku mengulang nostalgia ini, alangkah baiknya kuperkenalkan dulu anggota gank preman yang menjadi pemain utama dalam seri ini. Tentu saja semua nama yang kusebutkan ini adalah nama samaran. Jika tidak, aku akan menghadapi masalah besar nantinya. Bukannya bersikap seperti pengecut, tetapi adakalanya kita pun harus bertindak bijak agar tidak celaka nantinya.

Pertama, aku sendiri. Namaku sebut saja Ferry. usiaku 17 tahun pada saat itu. Tampan seperti Leonardo di Caprio sih memang tidak, namun lebih dari sekedar menarik dan punya badan yang proporsional. Penis lumayan juga, tidak mengecewakan dan yang penting sangat menggairahkan. Aku tidak suka membiarkan jembutku tumbuh tak terurus, malah aku lebih suka tampil plontos dengan sensasi imut dan menggairahkan. Aku masih penyuka gadis cantik, tetapi jika diajak bermain ranjang dengan cowok ganteng aku pun tak sudi menolaknya, kalau bisa.

Yang kedua, namanya Aryo sang “superboy”, disebut demikian karena ia nyaris tak punya cacat di wajah dan tubuhnya, he’s very perfect! Di samping itu, merupakan salah satu jagoan team basket sekolah. Rekornya berpacaran dan mempermainkan hati para gadis sudah mencapai yang kesebelas dalam setahun pertama ia bersekolah di SMU “TRIGUNA” itu. Fansnya adalah semua gadis yang ada di sekolah kami, terkecuali mereka yang tidak bisa melihat dengan jelas, alias trachoma.

Selanjutnya, yang bisa aku sebutkan adalah David. Dia memang tidak setampan Aryo, tapi dia punya badan yang bagus, dada yang bidang dan penis yang super besar, 18 cm. Dia campuran Bali dan Ambon. Kulitnya sawo matang dan berbulu. Yang jelas jika diamati dengan seksama, David ternyata cowok yang sangat menawan dan memikat hati, apalagi matanya yang bulat indah itu dengan alis tebal di atasnya dan bibirnya yang tipis sensual.

Dan yang terakhir adalah seorang teman yang baru kami kenal dalam liburan kami di Bali saat itu, Jason. Cowok bule 18 tahun berkebangsaan Irlandia ini pun sangat tampan dengan rambut pirangnya, dan tentu saja penis yang besar berukuran tak kurang dari 20 cm. Semua obrolan kami dengan Jason dalam kisah ini aku sudah terjemahkan ke dalam bahasa indonesia.

Kisahku kali ini adalah seputar masa liburan kami bertiga yang pada waktu itu kami habiskan di Bali, pulau yang katanya romantis.

***

“Kita renang yuk!”
Aryo bangkit dari atas pasir sambil menepuk-nepuk bokongnya, membersihkannya dari pasir yang menempel di atasnya. Kami berdua, aku dan Davis tak begitu bersemangat menanggapinya. Bagaimana mungkin berenang dengan ombak pantai Kuta seganas saat itu, bisa-bisa bukannya bersenang-senang malah tenggelam terbawa ombak nantinya.
“Kau mau bunuh diri disini!” sahut David sambil menatap temannya itu dengan tatapan aneh.
Aryo dengan sikap nakalnya langsung mendekati David, dan kemudian mencubit pipi David dengan gemas. David meringis, lantas mencibir. Seperti itulah, terkadang kedua makhluk aneh itu kalau bertemu, selalu saja bertingkah seperti anak kecil, untuk saat-saat tertentu memang tampak lucu, tetapi kalau selalu saja seperti itu aku jadi malah berpikir apakah mereka berdua ini masa kecilnya kurang bahagia dan sejahtera.
“Sudah, jangan kelewatan!” timpalku kemudian.
“Kita kenalan sama bule yuk!” usulku lagi.
Aku tiba-tiba melontarkan kata-kata itu begitu mataku tertumbuk pada sesosok cowok bule yang duduk di atas pasir dengan hanya bercelana pendek dan bertelanjang dada, di sebelahnya ada sebuah papan selancar.

Aku lantas menunjuk ke arah cowok bule itu, memberitahu David dan Aryo. Mereka pun ternyata sama tertariknya dengan aku untuk mencoba kefasihan bahasa inggris kami. Singkat cerita, kamipun mendekatinya dan berkenalan, namanya Jason, ia sedang berlibur seorang diri di Bali dan ini sudah menginjak hari ketiganya di pulau itu.
“Kau menginap dimana?” tanya David iseng.
“Hotel Sahid,” sahut Jason sambil menoleh dan menunjuk ke sebuah hotel di seberang jalan raya.
“Kau suka surfing? ombaknya asyik yah?” sambung Aryo. Jason menganggukkan kepalanya sekali.
“Sejak tadi aku bermain di atas ombak, sungguh luar biasa. Tetapi, kini aku sudah capai sekali. Sebentar lagi aku akan kembali ke hotel,” sahut Jason dengan ramah. Jason tampaknya teman yang mengasyikkan juga.
“Ikutan dong!(dalam bahasa Indonesia)” kata David setengah bercanda.
Aku dan Aryo tersenyum, sementara Jason menatap kami bertiga dengan heran, jelas-jelas ia tak mengerti.
“Ada apa?” tanya Jason dengan lugunya.
“Tidak, lupakan saja!” sahutku.
“Oh ya, kalian mau main-main ke kamarku?” tanya Jason tiba-tiba, kini malah kami yang dibuatnya heran, kami bertiga berpandang-pandangan satu sama lain.
“Boleh juga,” sahut David cepat. Jason pun segera bangkit dan kembali menuju hotel, dengan kami bertiga mengikuti di belakangnya sambil menahan tawa dan sesekali nyengir.
Jason menempati salah satu kamar di lantai satu, begitu masuk ke dalamnya, jelas kamar Jason sangat berbeda dengan kamar hotel kami yang lebih tepatnya disebut losmen.
“Aku membasuh badan dulu yah! Silahkan kalian bersenang-senang dan anggap saja seperti kamar sendiri, di kulkas ada beberapa kaleng cola, ambil saja!” kata Jason sembari kemudian ia menuju ke kamar mandi.

Beberapa saat kemudian terdengar percikan air dari dalam kamar mandi, sementara itu kami bertiga sudah asyik duduk di depan layar tv dengan coca cola dan potato stick di tangan kami. Aku dan Aryo duduk di atas sofa sambil berselonjor, sementara David memilih duduk di bawah, di atas karpet sambil bersandar pada ujung sofa. Setelah sekian lama, Jason pun muncul dari dalam kamar mandi, badannya hanya di balut handuk hotel dan jelas terlihat sekali tonjolan kontolnya di balik handuk itu. Jason pasti tak bercelana dalam, pikirku. Kemudian ia melangkah menuju rak tv dan mengambil sebuah DVD cassette dari dalamnya, ia menawarkannya pada kami.
“Kalian mau nonton ini?” tanya Jason. kami bertiga tak begitu tertarik melihat kaset DVD yang polos sama sekali itu, dan tidak berwadah.
“Apa judulnya?” tanya Aryo kemudian. Jason tersenyum,
“Lihat saja nanti, yang jelas film-nya sangat bagus,” kata Jason berpromosi.

Singkat cerita, kami pun setuju dan mulai timbul juga rasa penasaran kami. Film itu pun diputar, tidak lama muncul sebaris judul di dalamnya, “the extreme boy”. Dan tak lama sesudah itu, mulai muncul gambar demi gambar adegan-adegan yang kami gemari, intinya film itu bercerita tentang pesta seks yang dilakukan oleh enam orang pelajar, sangat hot dan merangsang. Jika tidak ada Jason, sudah pasti kita bertiga tak akan tinggal diam begitu saja, pasti kita akan langsung praktek bahkan sebelum film itu selesai diputar. Saat itu Jason, duduk di sampingku di atas sofa sambil sedikit mengangkang, jadi bagian depannya yang dililit handuk agak tersingkap, sayangnya batang kejantanannya tidak sampai terlihat. Yah terpaksa selama beberapa saat kami hanya menelan air liur kami dan menahan birahi kami, bahkan sampai film yang berdurasi 30 menit itu berakhir.

Di akhir tontonan, tampaknya Jason pun sudah tak dapat menahan gejolak nafsunya saat itu, ia meremas-remas dan meraba-raba kontolnya sendiri yang sudah berdiri tegak di balik handuknya itu. Kemudian, tangannya mencolek lenganku yang duduk di sampingnya, sambil matanya seolah-olah memberi isyarat dan sekaligus ijin untuk aku menikmati kontolnya pada detik itu juga. Aku pun tak menyia-nyiakannya, aku berjongkok di depan Jason dan membuka handuknya sampai lepas dan membuatnya telanjang bulat di depan mataku. Aryo dan David hanya memandangiku, mereka agak iri juga menyaksikan aku mendapatkan giliran pertama.

Aku pun mulai mencengkeram erat kontol bule yang big size itu, meremas-remasnya dengan gemas dan kemudian langsung menenggelamkannya di dalam mulutku, mengulumnya, melumatnya, dan menghisap ujung penisnya. Jason menggeliat-geliat, pinggulnya berputar-putar di atas sofa, sehingga membuatku semakin bernafsu untuk terus melumat kontolnya yang bergoyang-goyang seperti bambu tertiup angin itu.
“Arghh, nikmatnya!” Jason menggelinjang keenakan merasakan sedotan mautku.
David yang nafsunya sudah mencapai ubun-ubun pun tak mau ketinggalan, ia naik ke atas kursi dan melepas t-shirt dan kaus dalamnya, kemudian Aryo membantu melepaskan celana David dari belakang. David kemudian mencengkeram bagian belakang kepala Jason dan memagut bibir bule itu. Sementara itu, Aryo pun melepaskan pakaiannya dan celana dalamnya bertelanjang bulat, ia berjongkok di belakangku dan menanggalkan semua pakaianku, sesekali menyelinginya dengan ciuman-ciuman di bagian sensitifku, ia sudah cukup mengenal daerah-daerah pada tubuhku yang membuat nafsuku makin membara.

Kemudian, Aryo mendekapku dari belakang dengan erat, ia masih saja menyerangku dengan lumatan bibirnya. Sesekali aku melepaskan kontol Jason dari lumatanku dan berbagi dengan Aryo, karena Aryo pun sangat bernafsu untuk ikut menghisap kontol Jason, bukankah sesama teman harus saling berbagi. Aku dan Aryo bergantian melumat batang yang sama, terong Ireland. Aryo menghisap kontol Jason dan lebih suka memainkannya maju mundur di dalam mulutnya, sampai kemudian Jason mengerang dengan kuat dan memuncratkan spermanya,Sangat kental dan yang pasti nikmat luar biasa. Jason menumpahkannya di wajah Aryo, aku pun langsung melumat muka Aryo dan membersihkan sisa-sisa sperma Jason di muka Aryo itu dengan lidahku. Aryo pun kemudian menjilat habis sisa-sisa sperma yang masih melekat di ujung batang kejantanan Jason.

David, ia pun tak mau ketinggalan, ia setengah berdiri di depan Jason dan menunjukkan keperkasaan batangnya di depan Jason. Cowok bule itu pun tak menyia-nyiakannya, ia melumat sosis besar yang disodorkan kepadanya itu, memainkan kulupnya dengan lidahnya dan sesekali diselingi gigitan-gigitan kecil. David pun sampai dibuat mengerang-erang tak karuan karenanya. Cowok bule memang rata-rata jago untuk urusan semacam itu, sedotannya membuat David memuntahkan lahar putihnya tidak lama sesudah itu. Sehingga sperma David tumpah ruah di wajah dan dada Jason yang bidang itu.

Kemudian, aku pun naik ke atas sofa, mengatur posisiku di belakang David sehingga kami membentuk formasi lapis tiga. David melebarkan posisi kakinya dan menyadarkan tubuhnya pada Jason. Seperti biasanya, aku mulai mengambil kuda-kuda untuk mulai menusuk lubang anus David yang seksi dan gempal itu. Kontolku kuarahkan tepat ke arah lubangnya yang agak sempit itu, dan kemudian setelah kurasa posisinya tepat di mulut lubang, aku pun menyodoknya masuk. Kontolku seperti tersengat listrik tegangan tinggi, bergetar-getar dan bergoyang-goyang, aku sungguh menikmati gesekan antara kulup kontolku dengan liang anus David. Meski sudah cukup sering aku melakukannya dengan David, tapi kenikmatannya terasa selalu baru setiap kali sehingga aku tidak bosan.

“Arghh!” David menggigit-gigit bibir bawahnya menahan rasa sakit akibat tusukan dan gerakan maju mundur kontolku di lubang anusnya. David seringkali menyebutnya sebagai sengsara yang membawa nikmat, dan selalu menyisakan ketagihan. Aryo pun tak diam saja, aksinya kali ini adalah menjelajahi paha Jason sampai ke kedua belah telapak kakinya, Aryo menciuminya dengan liar, paha, betis dan kedua telapak kaki Jason. Ia mengulum dan menghisap jempol kaki Jason dengan penuh gairah, memainkan dan menggerak-gerakkannya di dalam lubang mulutnya. Jason pun menggeliat-geliat menahan rasa geli, sesekali ia mengerang ketika Aryo menggigit-gigit pelan jari kakinya itu. Setelah beberapa lama dan beberapa hole aku memompa kontolku keluar masuk dalam lubang David, aku pun memuntahkan spermaku, namun semuanya tumpah ruah di dalam anus David. David pun merasakan kehangatan dan aliran spermaku di dalam anusnya itu, ia sangat menikmatinya.

Kemudian kami pun berpindah ke atas spring bed, Jason menelungkupkan badannya, dan kemudian Aryo langsung menindihnya dan menciumi seluruh bagian belakang Jason bahkan sampai ke lubang pantat dan kedua belah selangkangannya. Buah pelir Jason yang kemerahan itu dilumatnya dengan penuh nafsu. sambil ia menggoyang Jason di atas tempat tidur pegas itu. Aku yang memandanginya saja sampai menelan air liurku, apalagi Aryo yang saat itu menikmatinya, pasti nikmat luar biasa. Aryo menusuk-nusukkan kontolnya yang keras dengan urat-uratnya yang besar-besar itu ke dalam lubang anus Jason. Cowok bule itu pun mendesah-desah seperti ular dan mengerang keenakan di atas kasurnya sambil tangannya mencengkeram erat punca sprei dan matanya berkedap-kedip menahan sensasi yang diberikan Aryo. Singkat cerita, Aryo pun menyodominya selama beberapa kali dan kemudian bergantian aku dan David menjebol pantat Jason yang padat dan gempal itu. Tetapi anehnya, Jason tidak sampai lemas, stamina dan libidonya seimbang, sama-sama kuat. Bahkan Jason ganti menyodomi Aryo, aku dan David bergantian, masing-masing kebagian beberapa hole.
“Argh.. this is very fantastic!”

*****

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar